Berharap , adalah sebuah hak dan mungkin menjadi sebuah kewajiban bagi kita, manusia yang tidak akan pernah mencapai kesempurnaan total. Ia dikatakan sebagai hak karena tiada seorangpun yang boleh melarang seseorang untuk berharap. Ya, karena itu adalah haknya untuk memiliki harapan. Sebaliknya ia dikatakn kewajiban karena dengan memiliki harapan itulah seseorang mempunyai motivasi dalam hidupnya. Jika seseorang tidak memiliki pengharapan maka otomatis motivasinya pun akan kurang bahkan bisa jadi tidak ada. Untuk itulah seseorang wajib untuk berharap agar ia termotivasi dalam hidupnya. Namun apa yang terjadi jika cahaya pengharapan itu sendiri telah hilang,?? Masih berhakkah ia untuk berharap,?? Atau masih diwajibkankah ia untuk terus berharap, padahal ia sendiri tahu bahwa harapannya itu hanyalah NOL belaka…?? Bukankah itu sama saja dengan harapan yang sia-sia..??? Oh tidak, dengan apa aku harus menjawab semua ini,???
Dalam kebingunganku, kusempatkan untuk membaca kembali kumpulan hadist dan ayat-ayat suci Al-Qur’an yang kurangkum dalam buku harianku. Kutemukan sebuah ayat yang kembali memberiku semangat untuk terus berharap. QS Al-Baqarah:286, “Allah tidak akan menguji seseorang melainkan dengan kesanggupannya”.
Sungguh teduh membaca firman Tuhan satu ini. Semangatku terasa kembali membara. Kulihat sebuah pengharapan masih setia menungguku. Menunggu aku yang kukira telah jauh terjatuh. Semangatku makin kuat, ketika seseorang yang kusayaangi mengatakan. Bahwa orang yang terkuat bukanlah orang yang selalu menang dalam segala hal. Tetapi mereka yang tetap tegar ketika mereka jatuh. Dan aku ingin menjadi bagian dari mereka, orang yang terkuat. (rida)
