Esok dari Hari Ini











Berharap , adalah sebuah hak dan mungkin menjadi sebuah kewajiban bagi kita, manusia yang tidak akan pernah mencapai kesempurnaan total. Ia dikatakan sebagai hak karena tiada seorangpun yang boleh melarang seseorang untuk berharap. Ya, karena itu adalah haknya untuk memiliki harapan. Sebaliknya ia dikatakn kewajiban karena dengan memiliki harapan itulah seseorang mempunyai motivasi dalam hidupnya. Jika seseorang tidak memiliki pengharapan maka otomatis motivasinya pun akan kurang bahkan bisa jadi tidak ada. Untuk itulah seseorang wajib untuk berharap agar ia termotivasi dalam hidupnya. Namun apa yang terjadi jika cahaya pengharapan itu sendiri telah hilang,?? Masih berhakkah ia untuk berharap,?? Atau masih diwajibkankah ia untuk terus berharap, padahal ia sendiri tahu bahwa harapannya itu hanyalah NOL belaka…?? Bukankah itu sama saja dengan harapan yang sia-sia..??? Oh tidak, dengan apa aku harus menjawab semua ini,???

Dalam kebingunganku, kusempatkan untuk membaca kembali kumpulan hadist dan ayat-ayat suci Al-Qur’an yang kurangkum dalam buku harianku. Kutemukan sebuah ayat yang kembali memberiku semangat untuk terus berharap. QS Al-Baqarah:286, “Allah tidak akan menguji seseorang melainkan dengan kesanggupannya”.

Sungguh teduh membaca firman Tuhan satu ini. Semangatku terasa kembali membara. Kulihat sebuah pengharapan masih setia menungguku. Menunggu aku yang kukira telah jauh terjatuh. Semangatku makin kuat, ketika seseorang yang kusayaangi mengatakan. Bahwa orang yang terkuat bukanlah orang yang selalu menang dalam segala hal. Tetapi mereka yang tetap tegar ketika mereka jatuh. Dan aku ingin menjadi bagian dari mereka, orang yang terkuat. (rida)



Duh, kayaknya ini emang pertanyaan bodoh! Dimana-mana yah berpikir dulu..setelah itu baru dech kita memutuskan ato menilai something.. ya gak,?? Tapi baru-baru ini aku mendapat pengalaman baru, yang mungkin mengingkari semua itu..Dan tentunya itu membuat aku kecewa dan sedih.

Sungguh manusia itu aneh.. aneh banget.. Jangankan nilai yang mereka buat sendiri. Something yang telah ditetapkan Tuhan pun mereka langgar dengan dalih bermacam-macam. Lidah emang tak bertulang.. Aku ambil contoh seperti ini, Tuhan telah berfirman bahwasanya minuman yang memabukkan itu diharamkan. Harusnya mereka patuh..Tapi apa,?? Mereka mulai dech berargument, “Kalo gak sampai mabuk kan berarti gak haram..” Nauzubillahiminzalik.nilai yang telah dijatuhkan Tuhanpun berani mereka ingkari..Apalagi nilai yang dibuat manusia itu sendiri.

Kembali ke pokok permasalahan, mana yang terlebih dulu kita lakukan menilaikah,?? Atau memikirkan,?? Aku yakin semua akan menjawab, “ya berpikir dululah baru kita jatuhkan nilai..!” Pertanyaannya, tapi kok masih ada yah orang yang menilai kemudian baru berpikir tentang penilaiannya itu..??

Oooh sungguh, beribu kali pun orang menjelaskan padaku alasannya tetap takkan membuatku puas. Karena bagiku, telah jelas ada hitam diatas putih. Kenapa harus diingkari,?? Tapi sekali lagi kukatakan, itulah manusia. “”MANUSIA.”



{Mei 14, 2008}   Aku Memilih Menangis!

Tak ada kehidupan tanpa airmata. Betul,?? Artinya tak ada kehidupan tanpa tangisan. Tanpa ada yang menangis atau tanpa ada yang ditangisi,

Sebagian orang mengatakan menangis itu sudah kodratnya manusia, so, wajar aja jika someone itu menangis. Namun sebagian lainnya mengatakan menangis itu cemen! Cengeng! Lemah! Atau apalah yang intinya menjatuhkan martabat manusia,,(haahhh..belebay..)

Emang sech jika dipikir-pikir menangis itu gak akan pernah bisa nyelesain masalah. GAK AKAN. Mo menangis ampe jambi banjir or indonesia kena tsunamipun, gak akan selesai masalah kita kalo Cuma menangis. Namun kita juga gak bisa pungkiri bahwa menangis bisa memberikan sedikit ketenangan. Tul gak,??

Dulunya aku mencoba untuk tidak menangis. Untuk beberapa waktu, mungkin sebulan lebih, itu bisa kulakukan. But, aku gak bisa bohongi diriku. Yah bisa dikatakan seperti hujan, saat airmata itu penuh, maka airmata itu harus segera dikeluarkan, manangis.

Now, belum aku temukan kepastian hidupku about menangis. Hanya saja ada sebuah kalimat yang menjadi dasar mengizinkanku menangis. “Lebih berbahaya mencucurkan airmata di dalam hati daripada air mata yang keluar dari mata kita. Airmata yang keluar dari mata kita dapat dihapus, sementara airmata yang tersembunyi, akan menggoreskan luka didalam hati yang bekasnya tidak akan pernah hilang”

So, aku memilih untuk menangis. Gimana dengan sobat,??(rida)



{Mei 14, 2008}   Beasiswa, untuk siapa,?

Beasiswa ya beasiswa. Setiap orang mengejarnya. Tak pandang miskin ataupun kaya. Yang namanya beasiswa tetap aja membuat semua tergiur tuk menerimanya. Tapi sebelumnya, perlu diperjelas beasiswa itu untuk siapa,?? Pelajar berprestasi atau pelajar yang kurang mampu dalam financialnya,?? Jika untuk pelajar berprestasi maka sah-sah aja kalau sipenerima orang kaya. Tapi kalau untuk pelajar kurang mampu,?? si kaya juga memburunya, wajarkah ini,??

Sungguh, dikampusku ada fenomena yang menurutku sangat memalukan. Sobat semua tentu tahu biaya kuliah itu gak murah. Maka salah satu solusinya pemerintah dan pihak-pihak yang peduli pendidikan memberikan bantuan beasiswa kepada mahasiswa yang kesulitan dalam membiayai kuliahnya. Perlu digaris bawahi, YANG KESULITAN MEMBIAYAI KULIAH.

Tapi apa yang terjadi dikampusku, gak pandang miskin atau kaya, beasiswa kurang mampu diburu oleh seluruh mahasiswa. Walaupun sudah jelas salah satu syaratnya adalah adanya SURAT KURANG MAMPU. Tapi apa yang dilakukan mereka, si kaya itu,?? Mereka memilih untuk membuat surat keterangan kurang mampu walaupun sebenarnya mereka tergolong orang yang mampu or kaya. Memiliki HP model terbaru, orang tua kaya raya, bahkan ada yang kekampus memakai kendaraan roda empat. Loh kalo emang kaya kok mereka bisa mendapatkan surat keterangang kurang mampu,?? Menurut saya pertanyaan ini cukup dijawab dengan senyuman. Senyuman yang saya yakin semua mengetahui jawabannya.

Melihat kondisi seperti ini, sungguh saya merasa sangat sedih. Bukan hanya sedih karena beasiswa itu tidak tepat sasaran. Tetapi juga sedih, mengapa ada orang yang seperti itu,?? Menggunakan berbagai cara hanya untuk mendapatkan beasiswa yang sebenarnya bukan haknya.? Belum lagi ketika saya tahu beasiswa itu dipakai hanya untuk kebutuhan pribadi mereka saja. BERSENANG-SENANG. Sungguh, serasa ada duri yang menusuk di hati saya. Bersyukurlah teman, jangan ambil hak orang lain. Tuhan telah memberimu nikmat, tetapi kenapa kau mengingkarinya,??



Yup,!! Memaknai untaian kata diatas sepertinya wajib bagi seluruh manusia. Kenapa wajib,?? Tak lain dan tak bukan, agar manusia itu tak Cuma memikirkan dandanannya saja. Memikirkan bagaimana berpakaian yang baik? Bagaimana berpakaian yang sesuai tuntunan agama.

Memang benar, kebanyakan orang menilai someone itu dari pakaiannya. Jika pakaiannya rapi, kata orang kepribadiannya rapi pula. Jika pakaiannya itu sesuai tuntunan agama, kata orang dia taat beribadah. Tidak! Sekali lagi saya katakan tidak demikian. Jangan terlalu cepat menilai seseorang Cuma dari gaya berpakaiannya aja! Siapa yang jamin coba, seseorang yang pakaiannya “beragama” akan masuk sorga,?? Dan siapa pula yang berani jamin, seseorang yang pakaiannya “tidak beragama” akan masuk neraka,??

Tidak sobat.. Masih ingat kisah pelacur yang masuk sorga Cuma karena memberi makan anjing,?? Coba pikir, pakaiannya senonoh, tetapi kenapa Tuhan memilih dia sebagai salah satu ahli sorga.? Yup! Karena hatinya. Keihlasannya.

Banyak lagi cerita-cerita ahli sorga yang tak dilihat dari gaya berpakaiannya.

So, sekarang yang jadi persoalan sebenarnya bukan lagi masalah bagaimana pakaian yang kita kenakan. Bukan lagi masalah sudah “beragamakah” pakaian kita? Yang menjadi persoalan penting adalah “mengagamakan” hati kita. Membersihkan hati kita. Menjauhkannya dari penyakit-penyakit hati yang bisa merusak keseluruhan hidup kita.

Jangan hanya sibuk memikirkan pakaian, supaya kita dipandang baik dimata masyarakat. Jangan hanya sibuk menyempurnakan pakaian kita sehingga melupakan hal yang terpenting dari itu semua, HEART. (rida) 140508 12;09



dan lain-lain