Esok dari Hari Ini











{Oktober 23, 2007}   Hal yang Paling Jauh

Ketika ditanya apa yang paling jauh dari kita, apa yang akan kita jawab,?? Jarak,? Hati,? Atau masih ada yang mengatakan luar angkasa itu jauh,?? Sungguh ini sebuah kekeliruan..

Ketika jarak dikatakan jauh, ternyata ada obatnya. Telah ditemukan pesawat terbang yang mampu membuat bumi ini terasa begitu kecil. Tinggal di Jakarta, makan malam di Singapura atau Kuliah di China bukanlah hal yang mustahil. Semua dapat ditempuh dengan sangat mudah..

Ketika hati dikatakan jauh.. Ternyata masih dapat ditemukan obatnya. Yakni dengan kasih sayang. Cinta mampu meluluhkan kerenggangan hati kita.

Dan ketika luar angkasa dikatakan jauh, ternyata kini itu tak mustahil lagi. Terbukti, sudah ada yang menjajaki bulan dan kini sedang dikembangkan pula supaya manusia dapat hidup di planet lain, Mars misalnya.

Terbukti, ternyata semua yang slama ini kita katakan jauh telah ditemukan ramuan untuk kedekatannya. Lalu apakah yang sebenarnya paling jauh diantara kita,?

Yup! Sesungguhnya yang paling jauh dari kita itu adalah masa lalu. Mengapa demikian,? Sampai saat ini belum ada dan tidak akan pernah ada teknologi yang bisa mengembalikan waktu. Atau setidaknya memutar waktu atau memperbaiki masa lalu. Apa yang telah terjadi itu terjadilah.

Oleh sebab itulah, masa lalu dikatakan oleh Rasullullah SAW adalah hal yang paling jauh. Kita tidak akan bisa kembali kemasa lalu. Kitapun tidak bisa memperbaiki masa lalu kita. Yang bisa kita lakukan hanya belajar dari masa lalu kita dan menjadikannya spion kehidupan.



{Oktober 23, 2007}   Harta Kita dan Bukan Harta Kita

Ada kesalahpahaman yang slama ini telah terjadi di hidup kita. Kasarnya, orang-orang lebih mencintai harta waris daripada hartanya sendiri. Bingung,? Sayapun awalnya juga bingung.

Kita definisikan satu-satu. Yang dikatakan harta waris itu adalah harta yang kita simpan, yang akan kita turunkan kepada turunan kita dan intinya adalah harta itu bukan kita yang akan memakainya.

Yang dikatakan harta sendiri itu adalah harta yang kita keluarkan untuk kita diri kita pribadi, khususnya persiapan kita diakhirat.

Coba kita lihat, orang-orang berlomba-lomba menabung ke bank, mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya, berjuta-juta bahkan ada yang sampai milyaran. Sesungguhnya yang mereka kumpulkan itu bukan lah harta mereka tetapi untuk orang lain. Bukan untuk mereka pakai tapi untuk mereka wariskan. Coba pikir, apa habis segitu banyaknya uang untuk dipakai sendiri,?? Tidak bukan,??

Sementara, untuk membayar infaq atau sedekah, paling Cuma berapa.. Ada yang ngasih seribu, 5 ribu, 50 ribu, 100 ribu atau paling banter 1 juta atau mungkin lebih. Yang pasti sulit banget nyari orang yang ngasih setengah kekayaannya untuk beramal.. Bahkan ada pula yang gak ngasih sama sekali. Jangankan untuk infaq atau sedekah untuk zakat aja ada juga yang berat ngeluarinnya. Sesungguhnya uang yang mereka keluarkan itulah yang dinamakan harta mereka sendiri. Yang nilainya Cuma seribu, 5 ribu, atau lebih.. Dan uang inilah yang mereka cicipi di dunia dan diakhirat kelak. Lalu mengapa orang lebih memilih mengumpulkan harta untuk orang lain ketimbang untuk dirinya sendiri,?

Yup! Kita rubah pola pikir kita. But, ini bukan berarti kita tidak boleh menabung uang loh.. Tapi kita seimbangkan harta kita, harta yang akan menolong kita dengan harta warisan, harta yang akan menolong keluarga keluarga kita.



dan lain-lain