Cerpen : Rida Efriani
Sungguh tak kusangka, padahal baru kemarin aku dan dia saling bercerita. Disini, yah disini. Di koridor kelas yang bukan kelasku, juga bukan kelasnya. Aku masih ingat kejadian itu.
Sore yang begitu panas, aku memilih untuk menunaikan solat ashar di musola sekolahku. Rasanya aku masih ingin berlama-lama lagi di musola. Tapi apa daya, hari sudah semakin sore. Sudah waktunya aku pulang kerumah. Aku yakin, ibu akan menanyakan padaku, mengapa hari ini aku pulang begitu sore.
Segera sehabis solat, aku berkemas. Buku-bukuku yang berantakan di musola segera kumasukkan kembali ke dalam tas yang sudah hampir dua tahun kupakai.
Sedikit terburu-buru aku keluar dari musola dan menaiki anak tangga yang menghubungkan musola dengan koridor kelas-kelas di SMA ku. Kupercepat langkahku karena kurasa lambungku sudah sedari tadi menabuhkan genderangnya.
Tepat di depan lapangan basket, langkahku terhenti. Aku bertemu Dian dan Eka. Kuluangkan waktu sejenak untuk ngobrol dengan mereka. Karena aku punya janji dengan Dian, untuk mengungkap kasus pencurian Hpnya.
“Gimana Rin, udah mau ngaku belom dia,”tanya Dian memulai pembicaraan.
“Aku belum sempat bicara dengannya. Tapi dari cerita kawan-kawan, emang dia yang nyuri. Dari geliatnya pun keliatan demikian..”jawabku menjelaskan.
“Yah jelas dia lah Rin..Siapa lagi coba..? Dia itu emang terkenal klepto.. Tapi udahlah lambat laun juga bakalan ketahuan.. Oh ya, kamu jadi gak mengangkat kejadian ini menjadi studi kasusmu dalam pelajaran sosiologi, perilaku menyimpang gitu.. Udah didiskusiin belum..?”tanyanya lagi.
“Jadi dunk. Tapi belom didiskusiin neh, rencananya hari ini..tapi bapaknya gak masuk..Mungkin Selasa depan.. Tenang aja aku akan buat dia ngaku.. Gimana kamu dah beli hp baru belom,?”
“Yah belumlah.. Nyokapku gak mau beliin aku HP lagi.. Satu-satunya cara agar aku punya Hp yah dia harus balikin HP aku..Ato kalo dah dijualnya, dia harus ganti..”
Kulihat raut sedih di wajah Dian..”Iya semoga aja Hpmu bisa balik..By the way, ngapain kalian berdua masih disini..Kan udah sore..”
“Kami mau latihan dance. Kebetulan ada kakak kelas yang ngajak kami gabung di team dance mereka,”jawab Eka yang sedari tadi sibuk sms-an dan membiarkan aku dan Dian bercerita.
“Iya Rin, tapi dari tadi kami nunggu, tuh senior gak datang-datang juga..Mana udah sore lagi..Kamu sendiri dari mana,?”tanya Dian padaku.
“Oh ngak, kebetulan aku habis mentoring di musola..Trus baring-baring, baca buku, solat Ashar, pulang dech..N berhubung dah sore neh, aku pulang duluan yah..”jawabku sambil berdiri dan berjalan pelan meninggalkan mereka yang kayaknya masih setia menunggu kakak kelas itu.
“Enak yah yang solat..”kata Dian dengan suara kecil..
Aku hanya tersenyum aja mendengar perkataannya. “Da..”
Aku berjalan meninggalkan mereka. Tak berapa jauh aku meninggalkan mereka, tiba-tiba saja aku jadi kepikiran dengan kata-kata Dian tadi. “Enak ya yang solat” begitu menggema di telingaku. Lama aku berpikir. “Loh, kenapa aku diam saja pas Dian ngomong gitu. Harusnya aku ngajak dia solat juga. Karena walau bagaimanapun mereka, mereka tetap harus solat. Balik lagi ato ngak yah,”pikirku.
“Aiiyh, besok aja dech..Aku harus segera pulang. Masih ada hari esok. Aku janji besok, aku bakal ngajak mereka solat juga,”bisik hatiku.
Akupun segera berlalu meninggalkan mereka. Pulang kembali kerumah. Dan..sabar yah lambungku sayang..20 menit lagi dech..hehe..
***
Esok paginya seperti biasa hari Rabu, giliran kelas kami yang olahraga. Berhubung lapangan di sekolah kami kecil maka kami biasanya olahraga di Stasion Mini yang letaknya tepat di seberang sekolah kami.
Tak ada yang aneh, semuanya berjalan normal. Seperti biasa. Sepanjang jalan menuju stadion mini kami habiskan dengan bersenda gurau. Aku tak lagi kepikiran janjiku dengan Dian.
Ternyata di stadion mini Pak Udin belum datang. Jenuh menunggu, kami memilih untuk duduk-duduk dilapangan basket stadion mini. Lesehan..
“Yasinan..oy yasinan..”celetukku.
“Emang siapa yang meninggal Rin,”tanya salah satu temanku.
“Loh gak tau yah, ituloh..mmmm..siapa yah..lupa namanya..Pokoknya yasinan aja, hehe”candaku.
Kontan aja semua teman-temanku tertawa.
Lama sudah kami duduk lesehan di lapangan basket itu. Ternyata Pak Udin tak datang hari ini..UUUhhh..capek deh..Kami pun segera kembali ke sekolah. Sepanjang jalan kami habiskan bersenda gurau. Itulah kami kelas X E yang terkenal nakal. Tapi kompak loh..
***
Memasuki gerbang sekolahan, suasana mulai berubah. Kulihat orang mondar-mandir dengan wajah yang sedih.
“Ada apa ini..ada apa,”tanya temanku.
“Entahlah..”
kami segera berjalan cepat menuju kelas kami. Belum sampai dikelas, kulihat orang banyak yang menangis. Aku dengar sayup-sayup, “Dian meninggal..Dian meninggal”
“Haah, siapa,??”tanyaku pada salah satu orang yang melintas di dekat kami.
“Dian.”jawabnya singkat dan segera berlalu.
Aku terdiam. Airmataku jatuh. Belum sempat untuk bertanya lagi, tiba-tiba saja salah satu temanku pingsan. Dia adalah Eby, teman akrab Dian waktu SMP. Kami segera mengangkatnya kekelas kami.
Sambil menunggu Eby sadar, aku menangis di sampingnya. “Dian..Dian..Dian..”kataku berkali-kali dengan suara kecil. Aku menangis..Terus menangis. Temanku yang lain sibuk menenangkan aku dan menyadarkan Eby.
Eby sadar dan segera memaluk aku. Kami menangis bersama. Saat dipelukan Eby, aku ingat kejadian kemarin, yah kemarin. Beberapa jam yang lalu. Oh tidak, aku ada janji..Dian…!!!
Tiba-tiba saja tersiar kabar bahwa Dian belum meninggal tapi masih koma di rumah sakit. Mendengar itu, rasanya masih ada secercah harapan. Aku dan Eby berusaha tenang. Kami berjalan keluar kelas bersama teman-teman yang lainnya.
Belum lama berjalan, aku mendengar orang berbicara bahwa Dian udah meninggal, dia kecelakaan dengan pacarnya.
Oh tidak, rasanya tulangku remuk semua. Aku paksa untuk berjalan. Kami memutuskan untuk kerumahnya biar dapat info yang pasti.
Untungnya rumah Dian gak begitu jauh dari sekolahan. Kami hanya perlu sekali naik angkot saja. Sekitar 5 menit kami sampai di rumah Dian. Tidak tuhan..tidak..Orang sudah ramai di rumah Dian. Kudengar lantunan ayat suci al-quran dari dalam rumahnya. Segera aku masuk, tapi tidak ada Dian disana.
“Dia lagi dalam perjalanan ke sini,”kata salah seorang yang berada dirumahnya.
Oh, aku kembali memeluk Eby yang tetap setia di sampingku..Kami berdua terisak-isak. Bukan hanya kami, yang lainpun kulihat matanya memerah. Bahkan banyak yang tak malu untuk menangis.
Lama, lama kami menunggu. Sampai akhirnya air mataku tak mau lagi keluar. Aku hanya terdiam. Menatap kosong kedepan, rasanya aku tak percaya. Kemarin sore aku masih bicara dengannya. Oh janjiku..janji..Aku kembali menangis kala mengingat janjiku.
Dari kejauhan terdengar bunyi ambulance datang. Orang-orang segera berlarian melihat kedatangan ambulance itu. Seperti berlomba untuk melihat siapa yang pertama kali melihat mayat Dian. Sementara aku, hanya memilih duduk didepan kasur yang sengaja dipersiapkan buat Dian.
Dia datang. Dian datang dengan diangkat beberapa orang. Melihatnya, aku kembali menangis. Kudengar, ibunya menangis histeris tiada henti. Membuat suasana semakin kalut dan penuh duka.
Tak lama mayat itu dibiarkan di kasur. Karena ayahnya sudah datang dari Tangerang, langsung saja mayat itu diangkat kembali, untuk dimandikan. Aku dan Eby memilih tetap duduk tenang di samping kasurnya. Kami terdiam. Terhanyut dengan kenangan kami masing-masing.
Bahkan saat dikafani pun kami tetap duduk di situ, di dekatnya. Menyaksikan proses pengafanan. Sungguh, pagi itu ia sangat cantik. Dan sungguh ia memang cantik. Kuyakin semua orang mengakuinya.
Aku Cuma bisa pasrah menyaksikannya untuk yang terakhir kalinya. Bahkan mungkin aku takkan bisa mengunjunginya lagi, karena ia akan di kuburkan di Tangerang. Makanya, aku memilih untuk terus diam dirumahnya sampai mobil ambulance membawanya ke pelabuhan udara.
Saat sudah tak ada lagi dia dihadapanku, aku dan Eby keluar dengan wajah yang menahan tangis. Langkahku terhenti, ketika di luar aku bertemu dengan Eka. Ia melihatku sambil tersenyum..Senyum yang dipaksakan..Kulihat air matanya kembali jatuh dan sebelum air mata itu jatuh dari wajahnya aku buru-buru memeluknya..Erat…Erat sekali.. Kami menangis bersama.. Lalu tersenyum.. Berpandangan.. Menangis lagi.. dan kamu tahu, dibalik senyum kami, tersimpan kenangan indah… Kemarin..yah baru kemarin..