Esok dari Hari Ini











Berharap , adalah sebuah hak dan mungkin menjadi sebuah kewajiban bagi kita, manusia yang tidak akan pernah mencapai kesempurnaan total. Ia dikatakan sebagai hak karena tiada seorangpun yang boleh melarang seseorang untuk berharap. Ya, karena itu adalah haknya untuk memiliki harapan. Sebaliknya ia dikatakn kewajiban karena dengan memiliki harapan itulah seseorang mempunyai motivasi dalam hidupnya. Jika seseorang tidak memiliki pengharapan maka otomatis motivasinya pun akan kurang bahkan bisa jadi tidak ada. Untuk itulah seseorang wajib untuk berharap agar ia termotivasi dalam hidupnya. Namun apa yang terjadi jika cahaya pengharapan itu sendiri telah hilang,?? Masih berhakkah ia untuk berharap,?? Atau masih diwajibkankah ia untuk terus berharap, padahal ia sendiri tahu bahwa harapannya itu hanyalah NOL belaka…?? Bukankah itu sama saja dengan harapan yang sia-sia..??? Oh tidak, dengan apa aku harus menjawab semua ini,???

Dalam kebingunganku, kusempatkan untuk membaca kembali kumpulan hadist dan ayat-ayat suci Al-Qur’an yang kurangkum dalam buku harianku. Kutemukan sebuah ayat yang kembali memberiku semangat untuk terus berharap. QS Al-Baqarah:286, “Allah tidak akan menguji seseorang melainkan dengan kesanggupannya”.

Sungguh teduh membaca firman Tuhan satu ini. Semangatku terasa kembali membara. Kulihat sebuah pengharapan masih setia menungguku. Menunggu aku yang kukira telah jauh terjatuh. Semangatku makin kuat, ketika seseorang yang kusayaangi mengatakan. Bahwa orang yang terkuat bukanlah orang yang selalu menang dalam segala hal. Tetapi mereka yang tetap tegar ketika mereka jatuh. Dan aku ingin menjadi bagian dari mereka, orang yang terkuat. (rida)



Duh, kayaknya ini emang pertanyaan bodoh! Dimana-mana yah berpikir dulu..setelah itu baru dech kita memutuskan ato menilai something.. ya gak,?? Tapi baru-baru ini aku mendapat pengalaman baru, yang mungkin mengingkari semua itu..Dan tentunya itu membuat aku kecewa dan sedih.

Sungguh manusia itu aneh.. aneh banget.. Jangankan nilai yang mereka buat sendiri. Something yang telah ditetapkan Tuhan pun mereka langgar dengan dalih bermacam-macam. Lidah emang tak bertulang.. Aku ambil contoh seperti ini, Tuhan telah berfirman bahwasanya minuman yang memabukkan itu diharamkan. Harusnya mereka patuh..Tapi apa,?? Mereka mulai dech berargument, “Kalo gak sampai mabuk kan berarti gak haram..” Nauzubillahiminzalik.nilai yang telah dijatuhkan Tuhanpun berani mereka ingkari..Apalagi nilai yang dibuat manusia itu sendiri.

Kembali ke pokok permasalahan, mana yang terlebih dulu kita lakukan menilaikah,?? Atau memikirkan,?? Aku yakin semua akan menjawab, “ya berpikir dululah baru kita jatuhkan nilai..!” Pertanyaannya, tapi kok masih ada yah orang yang menilai kemudian baru berpikir tentang penilaiannya itu..??

Oooh sungguh, beribu kali pun orang menjelaskan padaku alasannya tetap takkan membuatku puas. Karena bagiku, telah jelas ada hitam diatas putih. Kenapa harus diingkari,?? Tapi sekali lagi kukatakan, itulah manusia. “”MANUSIA.”



{Mei 14, 2008}   Aku Memilih Menangis!

Tak ada kehidupan tanpa airmata. Betul,?? Artinya tak ada kehidupan tanpa tangisan. Tanpa ada yang menangis atau tanpa ada yang ditangisi,

Sebagian orang mengatakan menangis itu sudah kodratnya manusia, so, wajar aja jika someone itu menangis. Namun sebagian lainnya mengatakan menangis itu cemen! Cengeng! Lemah! Atau apalah yang intinya menjatuhkan martabat manusia,,(haahhh..belebay..)

Emang sech jika dipikir-pikir menangis itu gak akan pernah bisa nyelesain masalah. GAK AKAN. Mo menangis ampe jambi banjir or indonesia kena tsunamipun, gak akan selesai masalah kita kalo Cuma menangis. Namun kita juga gak bisa pungkiri bahwa menangis bisa memberikan sedikit ketenangan. Tul gak,??

Dulunya aku mencoba untuk tidak menangis. Untuk beberapa waktu, mungkin sebulan lebih, itu bisa kulakukan. But, aku gak bisa bohongi diriku. Yah bisa dikatakan seperti hujan, saat airmata itu penuh, maka airmata itu harus segera dikeluarkan, manangis.

Now, belum aku temukan kepastian hidupku about menangis. Hanya saja ada sebuah kalimat yang menjadi dasar mengizinkanku menangis. “Lebih berbahaya mencucurkan airmata di dalam hati daripada air mata yang keluar dari mata kita. Airmata yang keluar dari mata kita dapat dihapus, sementara airmata yang tersembunyi, akan menggoreskan luka didalam hati yang bekasnya tidak akan pernah hilang”

So, aku memilih untuk menangis. Gimana dengan sobat,??(rida)



{Mei 14, 2008}   Beasiswa, untuk siapa,?

Beasiswa ya beasiswa. Setiap orang mengejarnya. Tak pandang miskin ataupun kaya. Yang namanya beasiswa tetap aja membuat semua tergiur tuk menerimanya. Tapi sebelumnya, perlu diperjelas beasiswa itu untuk siapa,?? Pelajar berprestasi atau pelajar yang kurang mampu dalam financialnya,?? Jika untuk pelajar berprestasi maka sah-sah aja kalau sipenerima orang kaya. Tapi kalau untuk pelajar kurang mampu,?? si kaya juga memburunya, wajarkah ini,??

Sungguh, dikampusku ada fenomena yang menurutku sangat memalukan. Sobat semua tentu tahu biaya kuliah itu gak murah. Maka salah satu solusinya pemerintah dan pihak-pihak yang peduli pendidikan memberikan bantuan beasiswa kepada mahasiswa yang kesulitan dalam membiayai kuliahnya. Perlu digaris bawahi, YANG KESULITAN MEMBIAYAI KULIAH.

Tapi apa yang terjadi dikampusku, gak pandang miskin atau kaya, beasiswa kurang mampu diburu oleh seluruh mahasiswa. Walaupun sudah jelas salah satu syaratnya adalah adanya SURAT KURANG MAMPU. Tapi apa yang dilakukan mereka, si kaya itu,?? Mereka memilih untuk membuat surat keterangan kurang mampu walaupun sebenarnya mereka tergolong orang yang mampu or kaya. Memiliki HP model terbaru, orang tua kaya raya, bahkan ada yang kekampus memakai kendaraan roda empat. Loh kalo emang kaya kok mereka bisa mendapatkan surat keterangang kurang mampu,?? Menurut saya pertanyaan ini cukup dijawab dengan senyuman. Senyuman yang saya yakin semua mengetahui jawabannya.

Melihat kondisi seperti ini, sungguh saya merasa sangat sedih. Bukan hanya sedih karena beasiswa itu tidak tepat sasaran. Tetapi juga sedih, mengapa ada orang yang seperti itu,?? Menggunakan berbagai cara hanya untuk mendapatkan beasiswa yang sebenarnya bukan haknya.? Belum lagi ketika saya tahu beasiswa itu dipakai hanya untuk kebutuhan pribadi mereka saja. BERSENANG-SENANG. Sungguh, serasa ada duri yang menusuk di hati saya. Bersyukurlah teman, jangan ambil hak orang lain. Tuhan telah memberimu nikmat, tetapi kenapa kau mengingkarinya,??



Yup,!! Memaknai untaian kata diatas sepertinya wajib bagi seluruh manusia. Kenapa wajib,?? Tak lain dan tak bukan, agar manusia itu tak Cuma memikirkan dandanannya saja. Memikirkan bagaimana berpakaian yang baik? Bagaimana berpakaian yang sesuai tuntunan agama.

Memang benar, kebanyakan orang menilai someone itu dari pakaiannya. Jika pakaiannya rapi, kata orang kepribadiannya rapi pula. Jika pakaiannya itu sesuai tuntunan agama, kata orang dia taat beribadah. Tidak! Sekali lagi saya katakan tidak demikian. Jangan terlalu cepat menilai seseorang Cuma dari gaya berpakaiannya aja! Siapa yang jamin coba, seseorang yang pakaiannya “beragama” akan masuk sorga,?? Dan siapa pula yang berani jamin, seseorang yang pakaiannya “tidak beragama” akan masuk neraka,??

Tidak sobat.. Masih ingat kisah pelacur yang masuk sorga Cuma karena memberi makan anjing,?? Coba pikir, pakaiannya senonoh, tetapi kenapa Tuhan memilih dia sebagai salah satu ahli sorga.? Yup! Karena hatinya. Keihlasannya.

Banyak lagi cerita-cerita ahli sorga yang tak dilihat dari gaya berpakaiannya.

So, sekarang yang jadi persoalan sebenarnya bukan lagi masalah bagaimana pakaian yang kita kenakan. Bukan lagi masalah sudah “beragamakah” pakaian kita? Yang menjadi persoalan penting adalah “mengagamakan” hati kita. Membersihkan hati kita. Menjauhkannya dari penyakit-penyakit hati yang bisa merusak keseluruhan hidup kita.

Jangan hanya sibuk memikirkan pakaian, supaya kita dipandang baik dimata masyarakat. Jangan hanya sibuk menyempurnakan pakaian kita sehingga melupakan hal yang terpenting dari itu semua, HEART. (rida) 140508 12;09



{April 3, 2008}   JANJI KEMARIN

Cerpen : Rida Efriani

 

Sungguh tak kusangka, padahal baru kemarin aku dan dia saling bercerita. Disini, yah disini. Di koridor kelas yang bukan kelasku, juga bukan kelasnya. Aku masih ingat kejadian itu.

Sore yang begitu panas, aku memilih untuk menunaikan solat ashar di musola sekolahku. Rasanya aku masih ingin berlama-lama lagi di musola. Tapi apa daya, hari sudah semakin sore. Sudah waktunya aku pulang kerumah. Aku yakin, ibu akan menanyakan padaku, mengapa hari ini aku pulang begitu sore.

Segera sehabis solat, aku berkemas. Buku-bukuku yang berantakan di musola segera kumasukkan kembali ke dalam tas yang sudah hampir dua tahun kupakai.

Sedikit terburu-buru aku keluar dari musola dan menaiki anak tangga yang menghubungkan musola dengan koridor kelas-kelas di SMA ku. Kupercepat langkahku karena kurasa lambungku sudah sedari tadi menabuhkan genderangnya.

Tepat di depan lapangan basket, langkahku terhenti. Aku bertemu Dian dan Eka. Kuluangkan waktu sejenak untuk ngobrol dengan mereka. Karena aku punya janji dengan Dian, untuk mengungkap kasus pencurian Hpnya.

“Gimana Rin, udah mau ngaku belom dia,”tanya Dian memulai pembicaraan.

“Aku belum sempat bicara dengannya. Tapi dari cerita kawan-kawan, emang dia yang nyuri. Dari geliatnya pun keliatan demikian..”jawabku menjelaskan.

“Yah jelas dia lah Rin..Siapa lagi coba..? Dia itu emang terkenal klepto.. Tapi udahlah lambat laun juga bakalan ketahuan.. Oh ya, kamu jadi gak mengangkat kejadian ini menjadi studi kasusmu dalam pelajaran sosiologi, perilaku menyimpang gitu.. Udah didiskusiin belum..?”tanyanya lagi.

“Jadi dunk. Tapi belom didiskusiin neh, rencananya hari ini..tapi bapaknya gak masuk..Mungkin Selasa depan.. Tenang aja aku akan buat dia ngaku.. Gimana kamu dah beli hp baru belom,?”

“Yah belumlah.. Nyokapku gak mau beliin aku HP lagi.. Satu-satunya cara agar aku punya Hp yah dia harus balikin HP aku..Ato kalo dah dijualnya, dia harus ganti..”

Kulihat raut sedih di wajah Dian..”Iya semoga aja Hpmu bisa balik..By the way, ngapain kalian berdua masih disini..Kan udah sore..”

“Kami mau latihan dance. Kebetulan ada kakak kelas yang ngajak kami gabung di team dance mereka,”jawab Eka yang sedari tadi sibuk sms-an dan membiarkan aku dan Dian bercerita.

“Iya Rin, tapi dari tadi kami nunggu, tuh senior gak datang-datang juga..Mana udah sore lagi..Kamu sendiri dari mana,?”tanya Dian padaku.

“Oh ngak, kebetulan aku habis mentoring di musola..Trus baring-baring, baca buku, solat Ashar, pulang dech..N berhubung dah sore neh, aku pulang duluan yah..”jawabku sambil berdiri dan berjalan pelan meninggalkan mereka yang kayaknya masih setia menunggu kakak kelas itu.

“Enak yah yang solat..”kata Dian dengan suara kecil..

Aku hanya tersenyum aja mendengar perkataannya. “Da..”

Aku berjalan meninggalkan mereka. Tak berapa jauh aku meninggalkan mereka, tiba-tiba saja aku jadi kepikiran dengan kata-kata Dian tadi. “Enak ya yang solat” begitu menggema di telingaku. Lama aku berpikir. “Loh, kenapa aku diam saja pas Dian ngomong gitu. Harusnya aku ngajak dia solat juga. Karena walau bagaimanapun mereka, mereka tetap harus solat. Balik lagi ato ngak yah,”pikirku.

“Aiiyh, besok aja dech..Aku harus segera pulang. Masih ada hari esok. Aku janji besok, aku bakal ngajak mereka solat juga,”bisik hatiku.

Akupun segera berlalu meninggalkan mereka. Pulang kembali kerumah. Dan..sabar yah lambungku sayang..20 menit lagi dech..hehe..

***

Esok paginya seperti biasa hari Rabu, giliran kelas kami yang olahraga. Berhubung lapangan di sekolah kami kecil maka kami biasanya olahraga di Stasion Mini yang letaknya tepat di seberang sekolah kami.

Tak ada yang aneh, semuanya berjalan normal. Seperti biasa. Sepanjang jalan menuju stadion mini kami habiskan dengan bersenda gurau. Aku tak lagi kepikiran janjiku dengan Dian.

Ternyata di stadion mini Pak Udin belum datang. Jenuh menunggu, kami memilih untuk duduk-duduk dilapangan basket stadion mini. Lesehan..

“Yasinan..oy yasinan..”celetukku.

“Emang siapa yang meninggal Rin,”tanya salah satu temanku.

“Loh gak tau yah, ituloh..mmmm..siapa yah..lupa namanya..Pokoknya yasinan aja, hehe”candaku.

Kontan aja semua teman-temanku tertawa.

Lama sudah kami duduk lesehan di lapangan basket itu. Ternyata Pak Udin tak datang hari ini..UUUhhh..capek deh..Kami pun segera kembali ke sekolah. Sepanjang jalan kami habiskan bersenda gurau. Itulah kami kelas X E yang terkenal nakal. Tapi kompak loh..

***

Memasuki gerbang sekolahan, suasana mulai berubah. Kulihat orang mondar-mandir dengan wajah yang sedih.

“Ada apa ini..ada apa,”tanya temanku.

“Entahlah..”

kami segera berjalan cepat menuju kelas kami. Belum sampai dikelas, kulihat orang banyak yang menangis. Aku dengar sayup-sayup, “Dian meninggal..Dian meninggal”

“Haah, siapa,??”tanyaku pada salah satu orang yang melintas di dekat kami.

“Dian.”jawabnya singkat dan segera berlalu.

Aku terdiam. Airmataku jatuh. Belum sempat untuk bertanya lagi, tiba-tiba saja salah satu temanku pingsan. Dia adalah Eby, teman akrab Dian waktu SMP. Kami segera mengangkatnya kekelas kami.

Sambil menunggu Eby sadar, aku menangis di sampingnya. “Dian..Dian..Dian..”kataku berkali-kali dengan suara kecil. Aku menangis..Terus menangis. Temanku yang lain sibuk menenangkan aku dan menyadarkan Eby.

Eby sadar dan segera memaluk aku. Kami menangis bersama. Saat dipelukan Eby, aku ingat kejadian kemarin, yah kemarin. Beberapa jam yang lalu. Oh tidak, aku ada janji..Dian…!!!

Tiba-tiba saja tersiar kabar bahwa Dian belum meninggal tapi masih koma di rumah sakit. Mendengar itu, rasanya masih ada secercah harapan. Aku dan Eby berusaha tenang. Kami berjalan keluar kelas bersama teman-teman yang lainnya.

Belum lama berjalan, aku mendengar orang berbicara bahwa Dian udah meninggal, dia kecelakaan dengan pacarnya.

Oh tidak, rasanya tulangku remuk semua. Aku paksa untuk berjalan. Kami memutuskan untuk kerumahnya biar dapat info yang pasti.

Untungnya rumah Dian gak begitu jauh dari sekolahan. Kami hanya perlu sekali naik angkot saja. Sekitar 5 menit kami sampai di rumah Dian. Tidak tuhan..tidak..Orang sudah ramai di rumah Dian. Kudengar lantunan ayat suci al-quran dari dalam rumahnya. Segera aku masuk, tapi tidak ada Dian disana.

“Dia lagi dalam perjalanan ke sini,”kata salah seorang yang berada dirumahnya.

Oh, aku kembali memeluk Eby yang tetap setia di sampingku..Kami berdua terisak-isak. Bukan hanya kami, yang lainpun kulihat matanya memerah. Bahkan banyak yang tak malu untuk menangis.

Lama, lama kami menunggu. Sampai akhirnya air mataku tak mau lagi keluar. Aku hanya terdiam. Menatap kosong kedepan, rasanya aku tak percaya. Kemarin sore aku masih bicara dengannya. Oh janjiku..janji..Aku kembali menangis kala mengingat janjiku.

Dari kejauhan terdengar bunyi ambulance datang. Orang-orang segera berlarian melihat kedatangan ambulance itu. Seperti berlomba untuk melihat siapa yang pertama kali melihat mayat Dian. Sementara aku, hanya memilih duduk didepan kasur yang sengaja dipersiapkan buat Dian.

Dia datang. Dian datang dengan diangkat beberapa orang. Melihatnya, aku kembali menangis. Kudengar, ibunya menangis histeris tiada henti. Membuat suasana semakin kalut dan penuh duka.

Tak lama mayat itu dibiarkan di kasur. Karena ayahnya sudah datang dari Tangerang, langsung saja mayat itu diangkat kembali, untuk dimandikan. Aku dan Eby memilih tetap duduk tenang di samping kasurnya. Kami terdiam. Terhanyut dengan kenangan kami masing-masing.

Bahkan saat dikafani pun kami tetap duduk di situ, di dekatnya. Menyaksikan proses pengafanan. Sungguh, pagi itu ia sangat cantik. Dan sungguh ia memang cantik. Kuyakin semua orang mengakuinya.

Aku Cuma bisa pasrah menyaksikannya untuk yang terakhir kalinya. Bahkan mungkin aku takkan bisa mengunjunginya lagi, karena ia akan di kuburkan di Tangerang. Makanya, aku memilih untuk terus diam dirumahnya sampai mobil ambulance membawanya ke pelabuhan udara.

Saat sudah tak ada lagi dia dihadapanku, aku dan Eby keluar dengan wajah yang menahan tangis. Langkahku terhenti, ketika di luar aku bertemu dengan Eka. Ia melihatku sambil tersenyum..Senyum yang dipaksakan..Kulihat air matanya kembali jatuh dan sebelum air mata itu jatuh dari wajahnya aku buru-buru memeluknya..Erat…Erat sekali.. Kami menangis bersama.. Lalu tersenyum.. Berpandangan.. Menangis lagi.. dan kamu tahu, dibalik senyum kami, tersimpan kenangan indah… Kemarin..yah baru kemarin..



{April 3, 2008}   Mimbar Tanya

Peraduan madu itu kini tlah pahit terasa

Jejak-jejak cinta pun tlah sirna

Memaknai duri yang menancap dihati

Menunggu waktu kan kembali warnai hari

 

Coba kau tebak,

Apa yang akan datang??

Sebuah tanya gelisah dan kehampaan menjadi bunga mimpi

Setetes airmata jadi saksi kebutaan hati

 

Aku ingin berlari,

Mengejar mimpi yang tak pasti

Jauh kulihat, kulihat jauh

Ia mununggu lalu menjauh

 

Jangan tanya aku,

Karna akupun tak tau,

Dari mana duri itu?

Bagaimana duri itu..

 

Keangkuhan kudengar jauh menjauh

Tapi semakin dekat,

 

Sekali lagi kukatakan

Jangan tanya aku,

Sebab akupun tak tahu siapa itu,??

Rida Efriani

Mahasiswi FE Unja



{Januari 4, 2008}   Dari Dosa Kita Belajar Dewasa

Ada benarnya juga kalimat ini. Untaian kata yang kudapat dari membaca novel karangan Muhidin M Dahlan, Tuhan Izinkan Aku Jadi Pelacur!

Walaupun buku ini menimbulakn kotoversial, namun bagiku pribadi tidak. Buku ini cukup bermanfaat bagi kita-kita yang sedang menjari jati diri. Agar tidak tersesat tak ada salahnya, buku ini kita baca.

Oh ya kembali lagi ke topik. Entah mengapa aku jadi semangat setelah membaca untaian kata yang kusebutkan tadi. Lama aku berpikir, ternyata benar, dari sebuah dosa yang kita lakukan kita diajari untuk dewasa. Betul tidak,??

Dari beberapa teman yang saya sampaikan kata-kata ini, mereka juga berpendapat yang sama. Toh emang kenyataannya gitu.

Namun, bukan berarti untuk jadi dewasa kita harus berbuat dosa. No..no..no.. Itu artinya salah presepsi.

Disini maksudnya, ketika kita mampu menghikmahi setiap dosa maupun kesalahan yang kita lakukan, disaat itulah kita sedang belajar menjadi dewasa. Sedang belajar memaknai setiap tindakan yang kita lakukan.

Seorang dikatakan dewasa, ketika ia mampu mengendalikan tindakannya. Sudah mampu membedakan mana yang harus dan mana yang tidak boleh ia kerjakan. Terpenting, seorang yang mengaku sudah dewasa, harus mampu mempertanggungjawabkan lisan dan perbuatannya. Apakah kita sudah termasuk orang dewasa,?? Tanyakan pada nurani kita?



{Januari 4, 2008}   Puisi-Puisi Rida

 

 

jdfysu-y-copy.jpg

 

Mengukir Kesedihan

 

Malam mati..

Aku pikir mati..

Malam jadi saksi

Bahwa kau masih ada di hati.

Senyummu memupuk wanitaku

Tawamu membangkitkan semangatku

Tapi kini semua kau renggut

Kau biarkan ku padam

Dan bersama pelangi

Kau hujamkan pisau kejantungku

Lalu kau biarkan ku mati memujaku

Saksikanlah, kan ku raih kau

Takkan ku biarkan cahayaku hilang

Takkan ku biarkan ku kembali padam

Jika kau hilang, maka

Biarkan aku jadi bayangan

Dan kawan menjadi kenangan

 

Jambi, 221609:151107

 

 

Telah Hancur

 

Ku rampungkan kegelisahan

Dalam cawan kesedihan

Luka menganga

Kan terus menganga

 

Kristal-kristal kegelisahan tertanam sudah

Membuat amarah makin memerah

Kini jiwa tersingkap air mata

Hanya badan sendirian merasa

 

Jambi, 160649

 

 

 

 

Moh!!

 

Aku suka, moh!

Aku jatuh cinta, moh!

Aku gila, moh!

Aku kaku, moh!

Ragu..

Bingung..

Termenung..

Moh!!!!

 

Unja, medium November



{Januari 4, 2008}   I am Sorry Friends…

 asf.jpg

 

 

 

 

TAk pernah terpikirkan olehku sebelumnya untuk menjauhi orang yang aku sayangi bahkan aku cintai. Tapi itulah aku, jika aku mulai sakit hati, entah mengapa hanya jalan ini yang terpikirkan oleh otakku yang kini mulai banyak beban tugas kuliah.  Uh,! Sampai sekarang aku masih bingung, salahkah caraku…

Iniatelly, I thing to always experience day with all of you. But in the reality, I am wrong. Bicker frequently draw near our friendship. Forgive me friends, if after this we seldom together. Coz I love all of you and I don’t willing to there is bickering again among us. Which is on finally will make us break and each other is inimical. I will experience my day again, correcting all. With or without you. Coz, fighting for my life is myself. I hope you enunciated..(duh maaf neh,bahasa inggrisnya berantakan bin kacau balau, hehe..)

Yup! Mungkin ini adalah bawaan diriku. Emang seingatku, dari jaman rok merah ampe sekarang gak pake seragam sekolah lagi, aku tuh emang getto.. Pernah seh waktu jaman putih abu-abu, neh sifat bisa aku kendaliin.tapi gak tau napa sekarang muncul lagi,uh!

But, I think that is my life. everyone surely have character which different each other. But we don’t only can surrender with existing fact. wrong, wrong be really. As possible we lessen it. And real correct, fight for! And with me. Downright, I am rather than liking to experience all thesely. Surely there is heavy feeling in my heart. And I hope in a moment I can control all these and become high minded someone. To all of you, I am only can tell to forgive me…



dan lain-lain